Yan Kanahebi
Selasa, Agustus 11, 2015 - 11:00

By Yan Kanahebi
Program Officer

MENJANGKAU DESA PEDALAMAN BERSAMA MAMA MIA

Usianya sudah enam puluh sekian tahun, cucu sudah ada satu, setiap bulan memperoleh gaji pensiun yang cukup, punya rumah nyaman di tengah kota Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Lalu untuk apa Maria Nogo, atau lebih akrab disapa Mama Mia, bergabung dalam program Ibu Inspirasi Kopernik? 

Dari Penyuluh KB dan menjadi Ibu Inspirasi

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya sepertinya perlu flashback sedikit dan sekilas membahas kisah Mama Mia. Perjalanan karir beliau dimulai sebagai seorang penyuluh lapangan program Keluarga Berencana (KB) bagi masyarakat desa di wilayah Flores Timur. Selama 30 tahun, Mama Mia rutin menempuh perjalanan jauh dan mengunjungi satu desa ke desa yang lain sampai akhirnya pensiun. Tekadnya bulat, beliau ingin menyadarkan masyarakat desa bahwa banyak anak belum tentu banyak rejeki.

Mama Mia patut bangga, beliau bahkan pernah diundang ke Istana Negara Republik Indonesia pada tahun 1997 oleh Presiden Soeharto untuk menerima penghargaan atas dedikasinya bagi masyarakat Flores dan program KB. Sampai sekarang, foto Mama Mia bersalaman dengan Presiden Soeharto masih terpanjang indah di rumahnya.

Setelah pensiun dan kembali menjadi ibu rumah tangga, Mama Mia mencari cara untuk terus mendedikasikan dirinya bagi masyarakat di daerah terpencil. Baginya, program Ibu Inspirasi Kopernik adalah pilihan yang tepat baginya.

“Dari dulu, saya memang senang melayani dan membantu masyarakat, khususnya di desa-desa terpencil. Lagipula, bosan juga rasanya seharian di rumah tidak kemana-mana,” kata Mama Mia sambil bersantai dirumahnya.

Perkenalan dengan Kopernik

Mama Mia pertama mengenal Kopernik setelah tetangganya - yang juga merupakan seorang Ibu Inspirasi, Mama Luku - menawarkan beliau untuk membeli saringan air Nazava.

“Awalnya saya tidak percaya ada teknologi yang bisa menyaring air tanpa dimasak. Sewaktu saya bawa pulang, suami saya juga juga sempat tidak setuju beli teknologi ini. Tapi setelah merasakan segarnya air Nazava dan menikmati penghematannya, kami jadi penggemar Nazava!”

Mama Mia bercerita, satu malam sebelum tidur, beliau teringat akan keadaan desa-desa yang dulu sering ia kunjungi: sumber air bersih sangat terbatas, sering terjadi pemadaman listrik, atau bahkan tidak ada akses tenaga listrik sama sekali.

“Saya langsung berpikir, teknologi Kopernik yang saya pakai ini tentu akan lebih berguna bagi masyarakat desa yang amat membutuhkannya. Besok paginya, langsung saya ke Kantor Kopernik di Larantuka dan daftar jadi Ibu Inspirasi.”

Bagi Produk Gratis untuk Berjualan?

30 tahun menjadi penyuluh KB sangat membantu Mama Mia dalam memperkenalkan teknologi Kopernik di desa-desa. Kebanyakan masyarakat desa sudah akrab dan sangat percaya dengan beliau. Jadi saat Mama Mia berkunjung ke desa dan memperkenalkan lampu tenaga surya, saringan air, dan kompor biomassa, masyarakat desa menyambutnya dengan antusias.

Strategi pemasaran unik Mama Mia? Tidak seperti Ibu Inspirasi lain yang memanfaatkan keuntungan penjualan teknologi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, beliau menggunakan uang tersebut untuk membeli lebih banyak lagi teknologi Kopernik. Untuk dirinya sendiri? Bukan. Mama Mia akan memberikan teknologi ini ke saudara-saudaranya di desa secara gratis!

“Nah, biasanya setelah saudara menerima teknologi dan merasakan manfaatnya, mereka secara langsung akan mempromosikan teknologi Kopernik ke tetangga dan masyarakat di desa. Pesanan pun mulai berdatangan.”

Strategi pemasaran dari mulut ke mulut terbukti efektif. Sejak bergabung di program Ibu Inspirasi pada bulan Maret 2015, Mama Mia telah menjual lebih dari 100 unit teknologi. Mama Mia sangat bersyukur dapat bergabung di program Ibu Inspirasi, terutama karena program ini mampu menyalurkan kepedulian beliau terhadap masyarakat di desa pedalaman.

“Senang rasanya ketika saya menghubungi masyarakat desa dan melihat bagaimana mereka sangat puas dengan teknologi Kopernik. Misalnya lampu tenaga surya, dulu pada malam hari rumah mereka sangat remang dan langit-langit rumah jadi hitam karena lampu minyak tanah, sekarang tidak lagi. Saya senang karena mereka bisa merasakan apa yang saya rasakan.”

Tetap terhubung dengan Kopernik: Gabung dengan lebih dari 4.000 orang yang menerima kabar bulanan dari kami