Yan Kanahebi
Rabu, Januari 18, 2017 - 16:30

By Yan Kanahebi
Program Officer

Belajar dari Mama Dety: Seorang Ibu, Istri, Guru, Pengusaha, dan Ibu Inspirasi

Sebagai staf lapangan Kopernik yang bertanggung jawab atas program Ibu Inspirasi, saya menyadari bahwa banyak ibu-ibu yang ingin terlibat dalam program ini, sayangnya pekerjaan utama dan rutinitas rumah tangganya yang sangat menyita waktu menjadi kendala terbesar. Hal ini merupakan tantangan bagi kami untuk memotivasi para ibu agar terlibat aktif dalam setiap kegiatan program Ibu Inspirasi. Namun lain halnya bagi Maria Bernadetta Amsikan, atau lebih akrab dipanggil Mama Dety, seorang Ibu Inspirasi dari Kefa, Kabupaten Timor Tengah Utara.

Meskipun Mama Dety disibukkan dengan rutinitas rumah tangga, bekerja sebagai seorang guru, serta beraktivitas di berbagai kelompok organisasi gereja dan masyarakat, beliau masih bisa meluangkan waktu dan terlibat aktif dalam program Ibu Inspirasi Kopernik. Sebagai seseorang yang sudah berkeluarga, saya bertanya-tanya bagaimana cara Mama Dety membagi waktu antara keluarga dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Mendapat kesempatan untuk bertanya langsung, saya sangat kagum dengan jawaban beliau. Setiap hari, Mama Dety bangun pukul empat dini hari untuk memulai kegiatan rumah tangganya. Dimulai dari memasak sarapan untuk suami dan anak-anak, membersihkan rumah, serta menyiapkan pakaian, rutinitas pagi Mama Dety selesai pada pukul 7 pagi di mana beliau sudah harus berangkat ke sekolah untuk mengajar. Setelah pulang dari kegiatan mengajar sekitar jam 2 siang, Mama Dety akan beristirahat sejenak sambil menjaga warung miliknya dan kemudian melakukan perannya sebagai Ibu Inspirasi: mengantar teknologi tepat guna - seperti  lampu d.light, saringan air minum Nazava, atau kompor biomassa - yang sudah dipesan oleh para pembeli.

Kegiatan distribusi teknologi ini biasanya beliau lakukan dari sore hingga malam hari, terkadang sambil mengikuti kegiatan lainnya seperti paduan suara dan arisan. Mama Dety merencanakan area mana saja yang harus didatanginya sebelum beliau berangkat untuk mengantar teknologi yang telah dipesan. Lalu sekitar jam 7 malam, beliau pulang ke rumah dan melanjutkan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Dari rutinitas sehari-hari Mama Dety ini, saya belajar bahwa beliau sangat pandai dalam memanfaatkan jaringan yang dimilikinya serta kegiatan-kegiatan yang diikutinya sebagai tempat untuk mempromosikan teknologi tepat guna yang dijualnya. Sehingga dengan demikian beliau dapat mengatur waktunya dengan baik, tetap melakukan kegiatan-kegiatannya sehari-hari dan aktif dalam mempromosikan teknologi tepat guna.

Misalnya saja, sejak bergabung dalam program Ibu Inspirasi Kopernik pada bulan Januari 2016, Mama Dety memperkenalkan saringan air Nazava di lingkungan sekolahnya dengan memanfaatkan kapasitasnya sebagai seorang guru. Sebelumnya, para guru dan siswa di sekolah Mama Dety sering membeli air minum kemasan di kantin sekolah, sehingga sekolah menjadi kotor karena banyaknya sampah plastik sisa air minum kemasan. Melihat peluang ini, Mama dety menunjukkan dan menjelaskan secara langsung proses penyaringan air Nazava kepada lingkungan sekolah. Setelah melihat dan merasakan hasilnya, teman-teman guru bersama kepala sekolah akhirnya memutuskan membeli saringan air minum Nazava sebagai fasilitas penyediaan air minum di sekolah. Hingga kini, hampir semua guru di sekolah tempat mengajar Mama Dety telah membeli saringan air minum Nazava secara pribadi untuk keperluan rumah tangga mereka.

Segala rutinitas dan kegiatan Mama Dety sehari-hari ini dapat berjalan lancar juga karena dukungan keluarga. Suami dan anak-anak Mama Dety sangat mengerti kesibukan beliau dan bahkan terkadang membantu mengantarkan pesanan teknologi. Satu lagi yang saya dapatkan dari Mama Dety, perannya sebagai seorang istri dan ibu di dalam keluarga dan dukungan keluarga yang diberikan kepadanya sangat berpengaruh dalam mendukung kesuksesan Mama Dety sebagai seorang Ibu Inspirasi. Sehingga tidak heran jika Mama Dety berhasil mendistribusikan lebih dari 100 unit teknologi tepat guna dalam kurun waktu 11 bulan saja.

Saya belajar banyak dari Mama Dety dan saya berharap orang lain juga bisa belajar dari Mama Dety.