Meninjau Dampak Revolusi Digital di dalam Masyarakat Indonesia
Kamis, Desember 14, 2017 - 17:30

By Kevin Aditya Prathama
Analyst

Meninjau Dampak Revolusi Digital di dalam Masyarakat Indonesia

Meskipun internet sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat di negara-negara maju seperti Norwegia dan Korea Selatan, setiap harinya masih ada jutaan orang di dunia yang menggunakan internet untuk pertama kalinya. Penggunaan internet ini berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan masing-masing pengguna. 

Di Indonesia, pengguna internet meningkat sebanyak 45 juta di tahun 2016, dimana 47% dari total penduduk mengakses internet dari telepon genggam mereka (We Are Social, 2017). Sebagian besar pengguna internet ini pada umumnya sudah terbiasa dalam mengoperasikan internet. Mereka menghabiskan 3,5 jam per harinya menggunakan internet melalui perangkat mobile, dimana 78% di antaranya menggunakan internet untuk berbelanja online (McKinsey & Company, 2016). Data ini menunjukkan bagaimana Indonesia telah menjadi pasar yang sangat menarik bagi para startup teknologi yang ingin berkembang.

Pada tahun 2017, potensi pasar online Indonesia tidak lagi terbantahkan: tahun lalu tiga startup yang dimulai di Indonesia telah mencapai status "unicorn", dimana valuasi mereka lebih dari 1 miliar dolar AS atau sekitar 13,5 triliun rupiah. Saat ini, masih banyak startup lainnya yang juga berusaha mengembangkan bisnis mereka untuk mencapai tingkat yang sama.

Dengan besarnya potensi internet saat ini, sudahkah penetrasi internet membawa dampak positif untuk masyarakat berpenghasilan rendah di Indonesia? Dalam skala yang lebih besar, sejumlah perusahaan startup mencoba untuk memberikan kesempatan ekonomi bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk memulai usaha mereka sendiri.

Tokopedia dan perusahaan e-commerce lainnya menawarkan cara yang lebih mudah bagi para penjual untuk menjangkau konsumen mereka, sementara perusahaan peminjaman peer-to-peer seperti Modalku dan Amartha menawarkan jasa pinjaman kecil kepada para calon pengusaha. Seiring dengan meningkatnya tren untuk menggabungkan teknologi ke dalam sektor bisnis, ekonomi Indonesia diperkirakan akan mendapat dorongan di tahun-tahun kedepan yang berpotensi meningkatkan PDB Indonesia sebesar 35 miliar dolar AS (Rp 474 triliun) dan menambah 3,7 juta lapangan kerja baru di tahun 2025.

Namun, adanya peluang dan manfaat yang ditawarkan oleh startup-startup teknologi ini bukan berarti bahwa manfaatnya telah mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia yang rentan dan berpenghasilan rendah.

Masyarakat Indonesia pada umumnya mengandalkan modal sosial yang kuat di dalam komunitasnya untuk mengatasi permasalahan pribadi mereka. Namun, saat ini semakin banyak warga yang pindah ke kota-kota besar, dimana masyarakatnya tidak saling mengenal secara dekat dan membantu satu sama lain. Penyakit yang berat, misalnya, seringkali menguras sumber daya terutama bagi mereka yang belum mendapatkan akses kepada program BPJS Kesehatan yang relatif baru di Indonesia.

Untungnya, dalam beberapa tahun terakhir sudah banyak perusahaan yang mengembangkan bisnisnya dengan misi sosial. Baik untuk mengatasi tuberkulosis maupun untuk melaporkan banjir bandang, perusahaan-perusahaan ini bertekad untuk membangun ketahanan di kalangan masyarakat miskin perkotaan.

Terinspirasi oleh upaya ini, kami di Kopernik sangat antusias untuk menggali potensi solusi berbasis sistem informasi sebagai bagian dari misi kami untuk menemukan solusi efektif dalam upaya mengurangi kemiskinan. Oleh sebab itu, kami akan mengadakan satu sesi diskusi di Urban Social Forum yang ke-5 dengan mengundang tiga perintis di Indonesia untuk berdiskusi mengenai tantangan, peluang, dan dampak dari upaya mereka bagi kaum miskin perkotaan di Indonesia.

Mari bergabung bersama kami di Bandung tanggal 16 Desember 2017, dan ikut berbagi pemikiran dan pengalaman kamu mengenai topik ini! Kunjungi situs acara untuk pendaftaran dan informasi lebih lanjut.

Referensi:
McKinsey & Company. 2016. Unlocking Indonesia’s digital opportunity. Retrieved from https://www.mckinsey.com/indonesia/our-insights/unlocking-indonesias-digital-opportunity

Digital in Southeast Asia 2017. 2017: We Are Social.